Samudera Toleransi di Desa Pringombo, Magelang, Jawa Tengah

Penulis: Vinanda Febriani

Editor: Tim Komite Edukasi Mafindo

 

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keragaman suku dan agama yang sangat unik. Hal ini yang mengharuskan toleransi menjadi identitas sehari-hari, bukan saja dipahami sebagai sebuah teori, atau jargon kampanye yang seringkali berujung pada ketiadaan implementasi yang jelas. Meski toleransi sudah ada sejak zaman nenek moyang kita, namun ia akan tetap relevan dengan kondisi masyarakat era modern yang makin berbhinneka.

 

Berbicara mengenai toleransi, memori saya menyelam pada kenangan kunjungan lima tahun yang lalu ke sebuah desa di lereng perbukitan di Magelang, namanya Desa Pringombo. Berdasarkan data BPS tahun 2020, dari 709 jiwa penduduk, 94 warganya merupakan penganut agama Kristen Protestan yang tinggal di antara mayoritas yang beragama Islam.

 

Perbedaan bukanlah menjadi halangan untuk kedua pemeluk agama ini saling menghormati. Tak ada yang merasa harus lebih dihormati, seolah mereka sedang mempraktikkan sebuah kalimat bijak, “Hormat adalah sebuah kata kerja, sehingga saling menghormati adalah kewajiban seluruh umat manusia.”

 

Nuansa tenang dan damai saya rasakan ketika mengunjungi dusun ini. Tak ada pertikaian menggelora, meskipun saat itu politisasi agama, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi menggema menyambut tahun politik 2019. Saya takjub, tak ada warga yang menggubrisnya.

 

Jika kita melihat di peta, jarak antara Masjid dengan Gereja sangat dekat. Hanya kurang lebih 60 meter saja. Jalan kaki pun cukup beberapa menit. Uniknya, dua rumah ibadah ini dibangun dengan antusiasme warga atas prinsip gotong-royong lintas agama. Tak ada penolakan, pun juga tak ada yang mempermasalahkan IMB hanya karena mayoritas penduduknya Muslim. Sebab mereka sadar betul, rumah ibadah adalah kebutuhan masing-masing umat beragama.

 

Di serambi Masjid Baiturrahman, saya mengobrol dengan beberapa sesepuh dusun. Mereka menceritakan kisah tahun 1965 kala isu pembantaian PKI merajalela. Dikisahkan bahwa pada saat itu, tradisi saling jaga di desa ini menguat. Mereka merasa ada ancaman terhadap harmonisasi sosial di Indonesia. Sehingga mereka berinisiatif untuk saling menjaga sesamanya. Misalnya ketika bulan Ramadan umat Islam beribadah di Masjid Baiturrahman, umat Kristen lah yang bertugas menjaga pos ronda dan menyisiri penjuru rumah supaya tetap aman.

 

Demikian pula pada saat isu teroris gencar di media, warga Muslim yang siap siaga menjaga keamanan Gereja dan perayaan Hari Raya Natal umat Kristen di sana. Harmonis sekali. Sampai saat ini, tradisi luhur tersebut masih terus dilestarikan.

 

Dua kisah kasih ini menyiratkan sebuah pelajaran berharga kepada kita, bahwa lingkungan yang toleran dibangun dari perspektif yang inklusif antar kelompok masyarakat. Toleransi bukanlah istilah asing, ia sebenarnya telah menyatu dengan kalbu masyarakat kita sejak dahulu kala.

 

Masuknya budaya asing ke dalam budaya masyarakat Indonesia membuat perlahan toleransi itu pudar. Sehingga seperti kita lihat, banyak yang anti terhadap kelompok atau umat beragama lain, menutup diri terhadap perbedaan, hingga melakukan sejumlah tindakan intoleransi bahkan teror terhadap kelompok yang berseberangan. Inilah budaya asing yang harus kita tinggalkan karena mengundang perpecahan dan permusuhan.

 

Dari desa Pringombo, desa samudera toleransi, ada banyak hal yang ingin saya dalami. Namun sayangnya waktu begitu cepat berlalu. Semoga di kesempatan lain saya bisa kembali untuk mengunjungimu. [VF-HM]